Nggak Ngaji Nggak Gaul

. Di antara banyak faktor terwujud hal ini adalah semaraknya acara keislaman yang diadakan untuk dikonsumsi remaja, saking banyaknya hampir tak ada beda antara suasana pesantren dengan suasana sekolah umum. Tentu tidak semua demikian.

            Sehingga saat ini, bolehlah dikatakan kalau gak ngaji, itulah yang gak gaul!

 

 Ngaji, emang penting?

            Maksud ngaji di sini bukan cuma membaca Al Quran, dan mempelajari tajwidnya.  Tetapi lebih dari itu adalah memahami dan mengkaji kandungannya dengan penjelasan para nara sumber yang berkompeten. Dengan demikian kita tidak hanya pandai membacanya, tapi buta dan tidak paham dengan apa yang kita baca. Rugikan?

            Persis yang Allah Ta’ala sebutkan tentang keledai:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak mau memikulnya, adalah bagaikan keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”  (QS. Al Jumuah (62) : 5)

            Nah, lalu apa pentingnya?  Ada beberapa sebab kenapa kita harus mengkaji ilmu-ilmu agama, lebih dari sekedar yang didapatkan dua jam pelajaran di sekolah.

 

1.    Kita dilahirkan dalam keadaan fitrah

Setiap bayi yang lahir ke dunia ini adalah fitrah (Islam), sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ayahnyalah yang membuat dia jadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

(HR. Bukhari No. 1385)

            Lembar putih fitrahnya manusia hanya ada ketika bayinya, setelah itu kehidupan dunia akan mewarnainya. Jika diwarnai dengan buruk, maka dia menjadi buruk, jika diwarnai baik maka dia menjadi baik. Oleh karenanya, kefitrahan manusia mesti dijaga dan dirawat. Caranya adalah dengan mengkaji pedoman hidup yang paling sesuai dengan fitrah itu sendiri, yakni Al Islam. Betapi pentingnya “pengajian” untuk menjaga fitrah manusia.

 

2.        Adanya permusuhan manusia dengan syetan yang terus menerus

Allah Ta’ala menciptakan syetan sebagai ujian buat manusia. Mereka mengganggu dan mengajak semua manusia kepada jalan yang salah dan sesat, agar manusia menjadi golongan mereka di neraka nanti. Ajakan tersebut bukan sesekali, tetapi setiap saat tak pernah henti dan lengah, selamanya demikian.

Allah Ta’ala memberi tahu kita tentang mereka:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Faathir (35): 6)

Iblis minta kepada Allah Ta’ala untuk panjang umur, agar dia bisa mengganggu manusia. Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15)

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya  sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS. Al A’raf (7): 14-15)

Maksudnya: janganlah saya dan anak cucu saya dimatikan sampai hari kiamat sehingga saya berkesempatan menggoda Adam dan anak cucunya.

Nah, belajar tentang agama merupakan sarana efektif melawan tipu daya syetan dan gangguannya. Sebab kita tidak mendapatkan pemahaman untuk mengetahui hal itu dalam pejaran IPA, IPS, dan olahraga. Tetapi kita mendapatkannya dengan mengkaji ilmu-ilmu agama dengan cara benar.

 

3.        Tipu daya para pembenci umat Islam yang juga terus menerus

Banyak pihak yang tidak suka dengan geliat kebangkitan umat Islam. Mereka membendung dengan berbagai cara agar Islam hanya menjadi urusan pribadi seseorang dengan Tuhannya. Mereka mencoba meniupkan pemikiran yang keliru tentang Islam, agar anak muda Islam menjadi malas, takut, dan menjauh dari agamanya.

            Mereka tidak pernah ridha, tidak pernah suka, dan tidak pernah bersahabat dengan tulus terhadap umat Islam, kecuali jika kaum muslimin sudah mengikuti mereka. Mereka mencoba melumpuhkan dan memadamkan cahaya Islam agar  umat Islam kembali mundur dan terbelakang. Oleh karenanya mereka menawarkan budaya mereka melalui fashion, lagu, film, ke negeri-negeri muslim. Sebagian umat Islam termasuk remajanya,  ada yang menyambut dengan gegap gempita, dan ada pula yang memfilternya dengan sehat, dan dapat mengetahui bahwa dibalik itu semua merupakan senjata mereka untuk menghancurkan umat Islam.

            Tetapi Allah Ta’ala berfirman bahwa umatNya tidak akan kalah:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9)

 

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.  Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.

(QS. Ash Shaaf (61): 8-9)

 

            Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal ini, dan juga memberikan perlawanan yang kuat, maka mempelajari Islam adalah kekuatan yang paling sempurna untuk melawan semua tipu daya dan rencana jahat mereka terhadap kaum muslimin.

 

Bagaimana Sarananya?

            Setelah kita tahu pentingnya “mengaji”, maka kita mesti tahu juga sarana-sarananya. Berikut ini adalah sarana “mengaji” bisa kita coba:

1.        Menghadiri majelis talim secara rutin yang sesuai dengan usia kita, agar kita betah gitu … soalnya ‘kan ada majelis talim yang isinya babe-babe ama nyak-nyak, kan kita jadi malu .. Dalam majelis seperti itu, kita bisa memahami isi Al Quran, As Sunnah, dan kisah-kisah orang shalih yang bisa diteladani. Dan … teman pun jadi bertambah.

2.        Membaca buku-buku keislaman, sebagai pengganti kalau kita tidak ada waktu untuk ke pengajian. Saat ini sangat banyak penerbit buku-buku Islam, bahkan menjadi tren masa kini. Penjualan buku-buku Islam lebih tinggi dibanding buku-buku lainnya. Kalian bisa membaca buku-buku fiqih tentang halal dan haram, tata cara ibadah, akhlak dan sebagainya, melalui buah karya ulama terpercaya, seperti Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Said Hawwa, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, Syaikh ‘Aidh Al Qarni, dan sebagainya.

3.        Membaca majalah Islami yang bermanfaat sebagai suplemennya. Seperti majalah Sabili, Tarbawi, Ummi, Al Intima’, Hidayatullah, As Sunnah, Al Wa’ie, dan sebagainya.

4.        Bisa juga melalui radio-radio Islami seperti Dakta, RAS FM, Wadi FM, Fajri FM, Roja, dan lainnya. Dari pada dengerin radio yang genjrank-genjrenk gak jelas, lebih baik berhibur sambil mendapat ilmu agama yang bermanfaat.

5.        Terakhir, bisa pula mengklik situs-situs bermanfaat yang sangat menambah wawasan keislaman kalian.Seperti islamedia.web.id,dakwatuna.com, al-ikhwan.net, syariahonline.com, abuhudzaifi.multiply.com, al-ahkam.net, dan sebagainya.

Wallahu A‘lam